Senin, 15 Juli 2019

Sidang Tuntutan Agus Jong Ditunda

 


SURABAYA - Sidang agenda tuntutan pada terdakwa Agus Setiawan Jong yang rencanaya digelar hari ini, Senin (15/7) di Pengadilan Tipikor, Sidoarjo ditunda.

Kuasa hukum Agus Setiawan Jong (ASJ), Hermawan Benhard Manurung menerangkan. Penundaan sidang disebabkan pihak Penuntut Umum masih belum siap dengan surat tuntutan.

"Penuntut Umum masih belum siap tuntutan" singkat Benhard, Senin (15/7).
Ketidak siapan JPU dalam menyusun surat tuntutan tersebut menurut Benhard disebabkan karena didalam fakta persidangan, Jaksa masih belum mampu membuktikan unsur pidana dalam pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 UU Tipikor Juncto pasal 55 KUHP yang didakwakan pada Agus Jong.

"Kalau antara Agus Setiawan Jong dengan penerima hibah ini sesuai keterangan Ahli adalah hubungan privat. Yakni jual beli murni". Imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Briyan Emanurio yang juga merupakan kuasa hukum ASJ menyoal keterangan dari Ahli BPK RI Ahmad Adjam, yang pada persidangan sebelumnya menyatakan terdapat potensi kerugian negara sebesar Rp. 4,9 Miliar dalam kasus ini.
Briyan menegaskan, perhitungan kerugian negara sesuai putusan MK Nomor 25/PUU/XIV/2016 Mengenai frasa kata "Dapat merugikan keuangan negara" dalam pasal 2 ayat (1) dan pasal 3 UU Tipikor sudah dihapuskan. Dalam artian, kerugian negara wajib dibuktikan secara riil.

Sedangkan dalam keterangan Ahmad Adjam dipersidangan, dia menyebut metode perhitungan yang dilakukan BPK RI hanya berdasarkan pemeriksaan sampling.

"Dia menghitung berdasarkan sampling tidak diberdasarkan satu persatu item dan para penerima barang. Padahal putusan MK Nomor 25/PUU/XIV/2016 kerugian negara harus dihitung riil bukan sampling". Ungkap Briyan.@ [Jn].

Sumber: xtrempoint.com

Minggu, 14 Juli 2019

Cepat Tanggap Bhabinkamtibmas Dan Babinsa Meredam Isu Dukun Santet

 


Probolinggo, Jatim - Berawal dari sebuah mimpi, seorang warga berinisial “U” warga Blok Kolor Rt/Rw 01/06 Kelurahan Kademangan Kota Probolinggo menuduh “S”, warga Blok Sepeni Rt/Rw 04/05 Kelurahan Kademangan Kecamatan Kademangan kota Probolinggo katanya memiliki ilmu santet dan hendak menyerang dirinya pada sabtu, (13/07/19) siang.

Mendengar hal tersebut membuat Bhabinkamtibmas Kelurahan Kademangan Bripka Suherly yang didampingi oleh Bhabinsa Serma Samsuri dan perangkat kelurahan bergerak cepat untuk menyelesaikan konflik tersebut agar tidak melebar.

Kepada tim, Bripka Suherly menjelaskan bahwa kejadian berawal dari “U” yang sedang sakit bermimpi bahwa “S” memakai baju hitam dan datang kepada “U”. Sedangkan “S” yang merupakan teman satu profesi dari “U” pada saat “U” mengalami sakit, berniat menjenguk sekaligus membawa gaji “U” yang dititipkan pada “S” oleh bosnya dan sekaligus “S” juga membawa oleh – oleh telur yang hendak diberikan kepada “U” yang sedang sakit. Karena kedatangan “S” dengan membawa telur itulah yang membuat “U” semakin yakin bahwa “S” memiliki ilmu santet dan berniat menyantet dirinya.

“Tuduhan dari “S” ini tidak ada fakta yang mendukung dan tidak berdasar. “U” menuduh karena dia bermimpi “S” mendatangi dirinya. Oleh karena itu kami dengan bhabinsa serta perangkat kelurahan mengupayakan untuk memediasi kejadian ini agar tida meluas.” Ucap Bhabin.

Bripka Herly juga menambahkan bahwa  atas kejadian tersebut kedua belah pihak dipertemukan dan di mediasi oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta dibuatkan surat kesepakatan bersama agar permasalahan ini dapat segera diselesaikan pada sabtu, (13/07/19) malam.

“Surat kesepakatan tersebut, pihak 2 yaitu “U” meminta maaf terhadap pihak 1 yaitu “S” atas perbuatannya. Kedua belah pihak juga sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan bersedia hidup berdampingan secara rukun.” Ucap Bhabin. (humas polres probolinggo kota)

Polresta Sidoarjo Gelar Pelayanan Publik Saat CFD

 


Polri terus memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Hal ini dibuktikan Polresta Sidoarjo yang menggelar Pelayanan Publik Terpadu - Sidoarjo Melayani untuk masyarakat Kabupaten Sidoarjo saat car free day (CFD), Minggu (14/7).

Pelayanan yang diberikan Polresta Sidoarjo antara lain yakni Perpanjagan SIM, SKCK Online, Pemeriksaan Kesehatan, SPKT (Pengaduan) dan Samsat Keliling. Masyarakat Sidoarjo, Jawa Timur, nampak antusias mendatangi stan-stan yang digelar oleh Polresta Sidoarjo tersebut.

Masih Banyak PJTKI Yang Belum Mengikuti Prosedur

 


Jakarta - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menilai hampir separuh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) tidak mematuhi prosedur pengiriman tenaga kerja.

Menurut Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat, ada 560 PJTKI namun demikian separuh di antaranya ditengarai tidak beres karena tidak memenuhi prosedur pengiriman TKI, meskipun lembaga tersebut memiliki izin. Pihaknya mendapatkan laporan dan aduan dari sejumlah PJTKI lainnya, mereka menanyakan kenapa lembaga yang telah memenuhi persyaratan seperti membekali calon TKI dengan keterampilan dan bahasa,justru lebih sedikit mengirimkan tenaga kerja.

“Dari total PJTKI, separuhnya itu PJTKI “tidak beres”, mereka punya izin tetapi prosedur pengiriman TKI tersebut tidak dipenuhi,” jelas dia ketika dijumpai wartawan

Dia mengatakan, beberapa PJTKI tersebut bahkan dapat mengirimkan tenaga kerja tanpa adanya asuransi, perjanjian kerja.sementara, hal tersebut akan berakibat buruk terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Menurutnya, peraturan terkait pengiriman tenaga kerja Indonesia harus dibenahi, dan dalam hal ini pengawasan harus diperketat.

“Peraturan yang intinya mengambil alih penempatan dan pengawasan TKI dari BNP2TKI, harus dibenahi,” jelas dia.@[Jeff]

Ngopi Bareng TNI-Polri Putussibau Mempererat Keakraban

 


Kapuas Hulu, Kalbar - Minggu (14/7/19) - Sinergitas TNI-Polri terlihat dengan adanya kegiatan ngopi bareng di warung kopi Suka Rasa Jalan Komyos Sudarso, Kecamatan Putussibau Kota, Kabupaten Kapuas Hulu. Antara personel Kodim 1206/Psb, Yonif RK 644/Wls dan Plores Kapuas Hulu.

Dalam kesempatan ngopi bareng tersebut di hadiri, Pasi Intel Kodim 1206/Psb Kapten Arm Mursid SH, Kasat Sabhara Polres KH AKP Slamet Riyadi, Pasi Intel Yonif RK 644/Wls Lettu inf Indra Parajan, dan beberapa orang anggota Unit dari Kodim 1206/Psb dan personel Polres KH serta Provost Yonif RK 644/Wls.

Pasi Intel Kodim 1206/Psb Kapten Arm Mursid SH menuturkan, Kegiatan ini sengaja dilaksanakan selain untuk memberikan pesan kamtibmas di masyarakat, juga untuk menurunkan dan mencegah angka kriminalitas serta untuk menjalin hubungan silaturahmi dan koordinasi yang baik antara TNI-Polri di wilayah Putussibau.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menambah keakraban dan meningkatkan komunikasi antara TNI dan Polri khususnya di Putussibau," ujar.

Lanjutnya, sebagaimana diketahui benturan antara anggota TNI dan Polri sering sekali terjadi dan hal tersebut disebabkan oleh hal-hal sepele yang dapat dihindari apabila terjalin komunikasi yang baik.

"Hendaknya kegiatan seperti ini sering dilaksanakan antara sesama anggota TNI dan Polri untuk menjalin komunikasi yang baik. Sehingga kedepannya dapat mengurangi benturan antara TNI dan Polri jika sudah saling mengenal," tandasnya. (Pendam XII/Tpr)

Wakil Wali Kota Tidore Tentang Anaknya Menjadi Kuli Bangunan

Foto Rafdi yang tampak kumal itu viral setelah diunggah akun bernama Muhammad Naoval di media sosial Facebook, Kamis (4/7).


Wajah Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, tampak sendu saat mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Tak lama kemudian ia melepas kacamatanya, lalu pelan-pelan air matanya tak lagi bisa ia bendung. Ekspresi wajahnya saat itu kontras dengan Muhammad Sinen yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tegas.

 Siang itu kepada cermat, Muhammad Sinen secara khusus menceritakan kenangannya selama membesarkan anak-anaknya, salah satunya Muhammad Rafdi Marajabessy yang bekerja sebagai kuli bangunan. “Saya selalu kasih ingat anak saya kalau jabatan saya ini milik masyarakat, bukan punya keluarga. Ngana (kamu) harus bisa mandiri. Bisa kerja keras sendiri,” ujar Sinen kepada cermat di ruang kerjanya, Selasa (9/7).






Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, meneteskan air mata ketika mengisahkan perjalanan hidupnya. Foto: Gustam Jambu/cermat



Wajah Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, tampak sendu saat mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Tak lama kemudian ia melepas kacamatanya, lalu pelan-pelan air matanya tak lagi bisa ia bendung. Ekspresi wajahnya saat itu kontras dengan Muhammad Sinen yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tegas.

Siang itu kepada cermat, Muhammad Sinen secara khusus menceritakan kenangannya selama membesarkan anak-anaknya, salah satunya Muhammad Rafdi Marajabessy yang bekerja sebagai kuli bangunan.

“Saya selalu kasih ingat anak saya kalau jabatan saya ini milik masyarakat, bukan punya keluarga. Ngana (kamu) harus bisa mandiri. Bisa kerja keras sendiri,” ujar Sinen kepada cermat di ruang kerjanya, Selasa (9/7).


Sinen mengetahui bahwa anaknya, Rafdi, sudah menjadi buah bibir warganet selama beberapa hari terakhir setelah fotonya viral di media sosial. Di foto itu Rafdi tampak mengenakan celana yang sobek dan kakinya dipenuhi percikan semen yang sudah mengering. Saat itu dia sedang mengeruk pasir menggunakan sekop.



“Dia anaknya Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, tapi dalam kehidupan kesehariannya sangat sederhana, mandiri, malahan bekerja sebagai kuli bangunan,” tulis Muhammad Naoval dalam unggahan tersebut.


Muhammad Sinen mengungkapkan selalu mengajarkan anak-anaknya untuk bisa bekerja di mana saja sejak dulu. Terlebih jika mereka sudah menikah, seperti Rafdi yang sudah satu tahun menikah.

“Dia kan juga sudah menikah, jadi harus bisa kerja keras. Saya tidak malu, yang penting halal. Lagian hidup ini hanya sementara, jabatan ini hanya sementara saja,” ungkap Muhammad Sinen.

Pelajaran itu diberikan kepada anak-anaknya karena dia sendiri mengaku telah melalui pengalaman hidup yang tak mudah, salah satunya pernah berjualan ikan.

“Kalau kelak anak saya jadi 'orang' atau pejabat tidak pernah mengenal susah, maka ia cepat lupa dan tidak peduli dengan orang-orang kecil. Ia harus belajar hidup dari bawah,” pungkasnya. (RF-Cermat)





Sabtu, 13 Juli 2019

Lumpuhkan Begal Merajalela, Dandim 1417/Kendari: Langsung Tembak di Tempat




Kendari, SultengMenjawab perkembangan situasi di daerah Kota Kendari terkait isu banyaknya pembegalan di kota ini, maka berdasarkan perintah dari Komandan Korem 143/HO, Komandan Kodim 1417/Kdi, Letkol CPN Fajar Lutvi Haris Wijaya langsung bergerak cepat dengan membentuk dan menurunkan dua tim untuk mengatasi begal di kota lulo ini.

Tim 1 adalah Tim Pasukan Reaksi Cepat Gajah Mada beranggotakan 30 prajurit bersenjata. Tim ini nantinya secara fisik akan langsung melaksanakan penindakan terhadap obyek-obyek yang dicurigai melakukan tindakan pembegalan atau tindakan lain yang meresahkan masyarakat.

Sementara Tim 2 adalah Tim Siluman Pradabashu. Tim ini tidak terlihat, mereka akan bergerak secara senyap untuk mencari dan menentukan titik-titik mana para pelaku kejahatan itu.

“Tim Pradabashu inilah yang akan memandu Tim PRC Gajah Mada bersama dengan tim dari Polres Kendari. Kita bersinergi dengan teman-teman kepolisian,” kata Letkol Fajar.

Fajar juga mengatakan, seluruh tim ini akan digunakan secara maksimal, agar permasalahan begal di Kota Kendari dapat segera kita atasi sehingga dapat menimbulkan kenyamanan bagi masyarakat.

“Alasan mengapa baru sekarang dibentuk tim oleh Kodim 1417/Kdi, ada beberapa prosedur yang harus dilalui. Kami harus menghormati fungsi-fungsi yang ada. Penegakan hukum dan keamanan merupakan tupoksi kepolisian. Namun apabila kemudian berkembang dan masyarakat meminta TNI untuk turun membantu, tentunya kami tidak akan tinggal diam, kami akan jawab permintaan itu secara cepat,” imbuhnya.

Tim bentukan Kodim ini akan terus bergerak hingga ancaman begal dan kriminalitas yang telah membuat masyarakat menjadi tidak aman sudah habis.

“Kami akan telusuri kelompok-kelompok pemuda yang senang berpesta miras. Karena hal itu tentunya tidak baik, kita harus segera akhiri karena dari sinilah nantinya timbulnya kejahatan seperti perkelahian, pembunuhan, geng motor dan lain sebagainya,” jelas Fajar.

Fajar meminta masyarakat berkaca dari kejadian di daerah Jawa. Ketika geng-geng motor didiamkan, tidak diambil tindakan secara keras, mereka akan berkembang secara masif. Ketika sudah besar, penanganannya akan menjadi lebih sulit. Ketika saat ini masih berupa embrio, bibit-bibit kejahatan itu menurutnya harus segera dihancurkan.

“Ketika kita (TNI) sudah turun, apa yang kita lakukan adalah penindakan, langsung kita lumpuhkan, tembak di tempat,” tegas Dandim. (RF/Inisultra.com)